
MI Sananul Ula mengadakan acara ramah tamah dengan sesepuh dan alumni sebagai bagian dari rangkaian perayaan Harlah ke-56 tahun. Acara yang bertempat di halaman Gedung Selatan ini, bertujuan untuk mempererat silaturahim. (Sabtu, 10/1/2026)
Hadir dalam acara tersebut, KH. Rohmat Salim, Rois Syuriah MWC NU Piyungan, KH. Anwar Zuhri, S.Ag., ketua Tanfidziyah MWC NU Piyungan, KH. Yahman, KH. Rubiyo, jajaran pengurus Komite Madrasah, perwakilan LP. Ma’arif NU Bantul, GTK, alumni dan mantan guru yang dulu pernah mengabdi di MI Sananul Ula. Mereka semua berkumpul bersama untuk berbagi pengalaman dan bercerita tentang sejarah perjalanan selama bergabung di MI Sananul Ula dengan berbagai perannya masing-masing. Mereka juga diberikan kesempatan untuk memberikan saran dan masukan kepada pihak madrasah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di MI Sananul Ula.
Kepala MI Sananul Ula, Ridwan SE., dalam sambutannya, mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir dan berpartisipasi dalam acara tersebut. Ia berharap silaturahim ini dapat terus terjalin dan memberikan manfaat.
“Kami sangat bersyukur atas kehadiran para tamu undangan. Kami selalu mengharapkan keberkahan atas nilai-nilai kebaikan dari para sesepuh dan alumni, semoga kami diberikan kekuatan dan kemampuan untuk dapat meneruskan amanah perjuangan memajukan MI Sananul Ula. ” Ujarnya.
Acara dimulai dengan tahlil dan doa untuk para muassis MI Sananul Ula, dipimpin oleh KH Rohmat Salim. Selanjutnya KH. Yahman Kepala Madrasah ketiga, bercerita tentang sejarah berdirinya MI Sananul Ula yang bermula hanya dari niat para muassis agar memiliki lembaga pendidikan formal untuk warga Nahdliyin. Maka pada bulan Januari 1970 berhasil mendirikan MIAI (Madrasah Ibtidaiyah Agama Islam).
Rubiyo, Kepala Madrasah keempat, juga memberikan kesaksian bagaimana sulitnya mendapatkan murid ketika itu, sehingga harus terus berinovasi untuk melayani apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan masyarakat, sehingga masyarakat kembali mendaftarkan putra-putrinya ke madrasah.
Para sesepuh kala mendirikan madrasah ini benar-benar komitmen pada masa depan pendidikan putra-putri nahdliyin yang lebih baik dan maju. Dengan semangat “padamu negeri” para sesepuh tanpa memikirkan honorarium tetap berjuang untuk mendirikan dan mempertahankan madrasah dari waktu ke waktu, sampai yang kita saksikan saat ini. [Heni]






