MI Sananul Ula: Syawalan Idul Fitri 1446H & Silaturahim Sowan Sesepuh NU Piyungan
FOTO SYAWALAN 1 2025

PAGI yang cerah, (Rabu, 9/4) di awal masuk kembali ke madrasah setelah libur Lebaran, civitas akademika MI Sananul Ula memanfaatkan untuk saling memaafkan antar Kepala Madrasah dengan segenap guru, karyawan, dan para siswa-siswinya. “Taqobballallahu minna waminkum taqobbal ya karim…”

Selanjutnya kegiatan rutin yang dilaksanakan di bulan Syawal ini adalah Silaturahim sowan sesepuh. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahim, memohon doa, dan mengenang jasa mereka, serta mempererat tali persaudaraan. Adapun sesepuh yang dikunjungi adalah Kyai Fauzan, S.Pd., KH.M. Yahman, S.Ag., Drs. H. Syamsul Huda, KH. Misbakhul Munir, KH. Rohmat Salim, Gus Mujahid, Drs. H. Imam Suja’i Fadli, Kyai Busro Asrori, KH. Anwar Zuhri, S.Ag., KH. Asmawi, Kyai Rubiyo, dan terakhir KH. Hery Kuswanto, MPd.I.

“Mereka semua adalah pejuang dan tokoh-tokoh pionir untuk perkembangan pendidikan Al Ma’arif di Piyungan pada khususnya dan Bantul pada umumnya. Untuk itu, kita sebagai penerus sesepuh, perlu mengambil semangat yang tak pernah padam yang selalu dinyalakan oleh sesepuh NU Piyungan,” ungkap kepala madrasah, Ridwan, SE.

M. Yahman, S.Ag. yang pernah ikut berjuang membesarkan MI Sananul Ula selama 15 tahun memberikan kesan yang sangat baik atas kemajuan pendidikan dan banyaknya jumlah siswa saat ini. “Sananul Ula telah menjadi kebanggaan hingga mendapat apresiasi yang baik, bukan hanya dari warga NU, tapi juga dari masyarakat sekitar,” tegasnya.

Saat kunjungan ke ndalem KH. Rohmat Salim, beliau memberikan doa agar semua guru yang mengabdi di MI Sananul Ula mendapatkan keberkahan silaturahim, rezeki yang luas, umur panjang yang manfaat, istiqomah dalam beribadah dan semua keturunannya menjadi anak-anak yang solih solihah, pintar ngaji-pintar sekolah. Beliau juga berharap MI Sananul Ula dapat meluluskan banyak siswa yang Hafidz-Hafidzah.

Gus Mujahid menyampaikan pesan, agar guru-guru tidak hanya menyampaikan ilmu pendidikan formal saja, akan tetapi juga dapat membimbing dan mengasuh siswa-siswanya. Pesan yang sama juga disampaikan oleh KH. Anwar Zuhri, S.Ag., “mengajarlah dengan Ikhlas, diniatkan beribadah dan berjuang di jalan Allah, maka insyaAllah akan mendapatkan pahala, kemudahan dan keberkahan rezeki melebihi dari yang diharapkan.”

Motivasi dan semangat mengajar disampaikan oleh Kyai Busyro Asrori, bahwa menjadi guru merupakan sesuatu yang patut dibanggakan, karena dengan menjadi guru berarti seseorang itu dapat melakukan salah satu Sunnah Rasulullah setiap hari dan berulang-ulang, serta mendapatkan amal jariyah.

“Jadi guru itu harus bangga, karena sabda Rasulullah SAW; innama buitstu mu’alliman (sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru). Artinya hanya dengan menjadi guru, maka kita melakukan Sunnah Rasul setiap hari dan berulang-ulang, serta mendapatkan amal jariyah,” tutur Kyai Busyro. [Heni]